Label

Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Pengusaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Pengusaha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Oktober 2010

Sukyatno Nugroho

Namanya Sukyatno Nugroho. Usianya 51 tahun dan menyandang "gelar" MBA. Bukan Master of Business Administration seperti yang biasa, tetapi kependekan dari Manusia Bisnis Asal-Asalan. Entah siapa yang mengolok-olok demikian, tetapi lelaki ini memang pengusaha bisnis makanan dan minuman yang terkenal dengan Es Teler 77-nya, dan sukses. Ini sebuah paradoks: dijuluki sebagai "Manusia Bisnis Asal-Asalan", tetapi kok usaha bisnis restoran yang dirintisnya mulai tahun 1982 justru terus berkembang. Bahkan sejak pertengahan 1997 ia membuka usaha jenis baru, masih tetap seputar urusan perut, yaitu "Bakmi Tek-Tek" dan "Ikan Bakar Pasti Enak". Ini pasti ada apa-apanya.http://www.indomedia.com/intisari/1999/febr uari/images/potret3.jpg

Olok-olok itu tidak tepat benar. Apa yang dia lakukan dalam memutar roda bisnisnya tidak asal-asalan. Bukan asal bisnis, asal jualan, asal melayani, asal promosi, dan asal-asal yang lain. Justru ia melakukan apa yang tidak banyak dilakukan pengusaha lain. Pendeknya, ia banyak melakukan terobosan dan inovasi. Misalkan, ketika orang lain terkesima dan mengagungkan produk dan merek asing, dia justru menyodorkan produk asli Indonesia dengan merek asli Indonesia pula: ia mengerek bendera bisnisnya dengan Es Teler 77-nya. Ketika sistem franchise atau waralaba belum lazim untuk mengembangkan bisnis produk dan merek dalam negeri, Sukyatno justru mengibarkan bisnis restoran es telernya dengan cara itu.
Padahal kala itu usahanya baru berkembang. Boro-boro terkenal, rasa es teler ataupun baksonya belum banyak dikenal orang. Lalu supaya dikenal, ia memasang label "Juara Indonesia" pada merek Es Teler 77-nya. Ini pun tidak asal main pasang. Sebab, predikat juara itu memang benar diperoleh dari suatu lomba membuat minuman es pada tahun 1982 yang diadakan pertama kali sekaligus terakhir di muka bumi ini. Label itu makin mengibarkan bisnis es telernya.
Dalam hal marketing public relations, Sukyatno memilih cara yang tidak biasa, dan selalu menciptakan komunikasi yang kreatif setiap kali membuka dan meresmikan outlet baru. Dia tidak memperkenalkan produknya lewat iklan. Ia juga "alergi" dengan kegiatan promotif yang tersusun rapi dengan rincian anggaran yang sudah dipatok besarannya. Pria kelahiran Pekalongan, 3 Agustus 1948, ini justru menyukai gelar promosi melalui acara yang tidak lazim. Bahkan tidak jarang menggelar acara untuk mencoba memecahkan rekor "ter-".
Sekadar contoh, ketika membuka cabangnya di Malang, dia menggelar lomba lukis bagi para tuna netra. Lalu bersamaan dengan acara pembukaan cabang di kawasan Mangga Dua, Jakarta, dia memprakarsai gelar pemecahan rekor dunia jumlah bank terbanyak di satu lantai dalam satu atap gedung. Lalu di Simpang Lima Semarang, dekat lokasi salah satu cabang restorannya, ia mengadakan lomba membuat gado-gado bagi istri tukang becak.
Warungnya pun dibuat unik dengan dominasi warna hijau dan kuning ngejreng tapi khas. Meski sebagian orang menganggapnya norak. "Kuning itu warna nangka, hijau alpukat, dan putih kelapa. Kalau orang bilang tempat saya paling norak di seluruh dunia, saya malah senang. Satu-satunya franchise paling norak, ya punya saya. Tapi sebenarnya saya membuat ciri sendiri," kilahnya.

http://www.indomedia.com/intisari/1999/februari/im ages/potret4.jpg

Sementara itu ke dalam, sebagai pengendali sekaligus pemilik perusahaan, dia juga menempatkan diri dengan caranya sendiri. Kalau orang nomor satu di sebuah perusahaan waralaba lain tugasnya lebih banyak duduk di kantor, tanda tangan di kursi empuk dalam ruangan berpenyejuk udara, Sukiyatno justru lebih banyak ikut nyemplung di lapangan. Bahkan dia tak segan-segan ikut membelah kelapa atau nangka - bahan baku untuk es telernya - seperti ketika membuka cabang Es Teler 77-nya yang ke-200 di Singapura. "Begitulah seharusnya seorang wiraswastawan," ujar suami Yenny Setia Widjaja ini.
Sukyatno tak keberatan kalau ada orang yang menyebutnya sebagai pengusaha paling nyleneh bin aneh di dunia. Dia menolak disebut direktur atau presiden direktur. Dia lebih suka disebut juragan, julukan yang biasa disandang pengusaha kecil. "Kalau saya juragan, yang punya wilayah (maksudnya, usaha Es Teler 77 - Red.) di Indonesia bahkan luar negeri cuma saya. (Pangkat) rendah tidak apa-apa. Tapi nomor satu di Indonesia," jelasnya.
Dengan kiat-kiat yang tidak lazim Sukyatno toh mampu membawa barang dagangannya dikenal banyak orang. Tidak lazim bukan berarti tanpa makna. Sebab, sering kali acara yang digelar mempunyai kadar newsworthy pekat, sehingga kuli tinta seakan tersedot untuk datang meliput. Ketika beritanya tersiar lewat media massa, secara tak sengaja usaha bisnisnya dipromosikan. Sementara publik yang menyaksikan secara langsung gelar acara itu mengetahui kehadiran outlet Es Teller 77 di tempat mereka. Dengan demikian, produk waralabanya memiliki awareness tinggi, alias dikenal luas.
Jodoh bawa rejeki
Entah apa yang menggiring Sukyatno hingga sampai pada suatu perilaku bisnis macam itu. Yang pasti, pria berperawakan agak subur ini tidak pernah bermimpi jadi pengusaha sukses seperti sekarang. Pendidikan formalnya cuma sampai SMU kelas 1. Bahkan, di kelasnya dia mengaku hanya mampu mencapai ranking 40 dari 50 orang siswa.
Namun, di balik itu dalam tubuhnya mengalir darah keuletan dan kejelian mencari peluang. Berbekal ijazah SMP, bujangan Sukiyatno mencoba mengadu nasib sebagai salesman barang-barang kelontong di Jakarta. Dalam perjalanannya ia juga pernah menjadi pemborong bangunan reklame, usaha percetakan, dan biro jasa sekaligus tukang catut. Ternyata dari aneka macam pekerjaan itulah dia mendapatkan ilmu dagang dan memahami pasar.

Ketika masih jadi salesman, ia berkenalan dengan Yenny Setia Widjaja, gadis manis pedagang alat-alat elektronik di kawasan Kota, Jakarta. Kerlingan matanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Konon setiap melihat Sukyatno memarkir sepeda motornya di depan toko, jantung gadis kelahiran 27 Januari 1952 ini berdegup keras. Tanpa terucap kata cinta, pria bershio tikus ini pun menjalin tali kasih. Enam bulan kemudian, tepatnya 28 September 1971, mereka pun menikah.
Tak disangka pernikahan itu mengantar Sukyatno menjadi pengusaha es teler. Setelah bergulat dengan berbagai cobaan hingga bangkrut dari usahanya yang masih serabutan, keberuntungan mulai berpihak pada pria bernama asli Hoo Tjio Kiat ini. Ibu mertuanya berhasil menjadi juara lomba membuat es teler pada 1982. Kepiawaian Sukyatno mencontek ketika masih sekolah dia tunjukkan kembali. Resep es teler itu dia jiplak mentah-mentah.

http://www.indomedia.com/intisari/1999/februari/im ages/sukyatno.jpg

Dengan modal Rp 1 juta, pada 1982 ia membuka warung es teler pertamanya di halaman pusat pertokoan Duta Merlin, Jakarta. "Waktu itu, saya belanja sendiri. Jam lima pagi belanja di pasar, cari nangka di Pasar Minggu," kenangnya. Namanya saja resep juara, tentu enak rasanya. Maka wajar kalau kemudian pelanggannya makin hari makin banyak. "Warung saya ramai karena saya tulisi Juara Indonesia. Itu saya pakai sampai sekarang karena memang tidak ada orang yang merebut juara itu dari mertua saya," tambahnya, seperti dikutip Gatra (27 Mei 1995).

Karena beberapa kali warung tendanya digusur, Sukyatno berunding dengan istrinya untuk mencari jalan keluar. "Mendingan mengalah. Kita akan selalu kalah kalau bertengkar dengan orang gede. Kalau saya nyogok Rp 1 juta, orang gede bisa nyogok Rp 10 juta,-. Saya pasti kalah," ujarnya rada dongkol. Ini justru menimbulkan dendam positif. Kalau digusur satu, harus jadi lima. Digusur lima, harus jadi lima puluh. Tekadnya ini ternyata membuahkan hasil. Dia mampu menyewa kios di Pondok Indah untuk pertama kalinya pada 1992. Setelah itu, beberapa cabangnya bertebaran di mana-mana.

Namun, beberapa kali cabang yang didirikannya gagal. Usut punya usut ternyata di depan kiosnya ada pedagang es teler juga dengan harga separuhnya. Akhirnya, kiosnya dipindah ke plaza (pusat perbelanjaan) setelah melalui perdebatan sengit dengan istrinya lantaran masa sewa kios lamanya masih 1,5 tahun. "Kepindahan ke plaza ini justru menjadi sebuah revolusi," cerita ayah Felicia, Andrew, dan Fredella ini.
Keputusannya kali ini tepat. Kepindahannya ke plaza pada 1994 itu ternyata semakin membuka lebar pintu usahanya untuk menjadi lebih sukses. Kalangan pembelinya pun semakin luas dari berbagai strata sosial-ekonomi. Bisa diduga, uang pun mengalir deras ke koceknya. Namun, sukses itu tak membuatnya berhenti.

Tibalah dia pada ide waralaba. Ia berusaha menggali informasi tentang sistem bisnis ini. Lembaran buku tebal tentang franchise yang berbahasa Inggris dibolak-baliknya. Namun, "Yang saya lihat bagan dan skemanya saja. Saya 'kan cuma tamatan SMP. Baca buku tebal berbahasa Indonesia saja nggak sanggup, apalagi berbahasa Inggris," akunya terus terang. Sejak itulah dia merintis bisnis waralaba untuk Es Teler 77-nya.

Krismon tak berpengaruh
Sukyatno melihat, pengembangan usaha dengan cara bermitra memang memberi peluang berhasil lebih besar. Usaha waralaba ini membutuhkan investasi ringan, teknologinya sederhana, bahan bakunya mudah diperoleh, dan jaminan keuntungannya yang menggiurkan. "Kalau saya bermitra dengan H. Sukarta di Batam, misalnya, yang memodali 'kan dia? Dia orang sana, tahu 'musuh-musuh' (pesaing - Red.) di sana. Dia tahu tempat membeli nangka. Jadi, dia tak mau rugi. Ini ‘kan milik dia. Saya mendukung dengan merek dan manajemen standar," tuturnya.
Sementara ia sendiri juga mengganggap, cabang itu miliknya, sehingga ia pun tak ingin ada cabang yang tak sukses. "Walaupun restoran itu milik orang lain, tapi ‘kan pakai merek saya. Jadi, saya bekerja seolah-olah itu milik saya," tambahnya.

Dari semua cabang Es Teler 77 yang pada September 1998 lalu mencapai 203, lebih dari 95% milik mitranya. Ini merupakan rekor terbesar jumlah mitra usaha dengan pengusaha kecil dalam bisnis waralaba tradisional. Sukyatno mengaku, sebenarnya bisa membuat semuanya milik mitra usahanya. Namun, dia menganggap perlu ada cabang yang dikelola sendiri untuk contoh bagi franchisee atau mitra usahanya. Di samping itu juga sebagai laboratorium pengujian bagi usaha waralaba yang dia jalankan.

Dengan pola usaha macam ini, pada masa krisis ekonomi sekalipun, roda usaha tetap menggelinding. Pasalnya, bisnisnya tidak menggunakan kredit bank sehingga tidak terbebani oleh pengembalian kredit dengan bunga yang selangit. Bahan baku makanan dan minuman pun bisa diperoleh di Indonesia, sehingga biaya produksinya tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak kurs rupiah, dan harga jual produknya pun masih terjangkau.

Bahkan, Sukyatno mampu membuka lagi bisnis waralaba baru, yakni "Bakmi Tek Tek" dan "Ikan Bakar Pasti Enak". Untuk membidani lahirnya dua usaha baru itu, dia mengaku cuma perlu waktu dua minggu, dari munculnya ide sampai mulai jalan. "Lha wong idenya muncul di dalam mobil saat dalam perjalanan," kenangnya. Kini cabang "Bakmi" ada 34 dan "Ikan Bakar" ada tujuh.

Dalam pengelolaannya, Sukyatno menerapkan standardisasi. Tak hanya pada manajemen, tapi juga pada peralatan dan mutu produk. Peralatan yang ada di setiap restoran yang menggunakan merek dagangnya memiliki standar yang sama dan sudah modern. Umpamanya, tempat menyimpan bahan es telernya sudah berpendingin dan penghancur esnya otomatis sehingga butiran esnya seragam. "Semuanya sudah rapi dan efisien, sehingga semua orang bisa menyiapkan es teler," jelas pria berpenampilan sederhana ini.

Mutu makanan dan minuman yang dijual pun baku dengan resep yang tak berubah sejak ia buka warung hingga kini. Dalam segelas es teler tetap terdapat kelapa muda, alpukat, nangka, sirup dengan rasa khas, dan serutan es. Untuk mendukung standardisasi mutu itu dia mendirikan perusahaan khusus penghasil bahan utama setiap restorannya di bawah PT Pancoran Murni Sejati. Perusahaan ini memasok bahan baku utamanya berupa sirup, biang kuah bakso, dan mi kepada semua cabang Es Teler 77.

Lalu, apa yang bisa diperoleh si penemu resep es teler, yang juga ibu mertuanya, setelah usahanya menjadi besar? Sukyatno memang tidak membeli hak cipta resep itu. Ia memilih pendekatan kekeluargaan. Saham Es Teler 77-nya dimiliki oleh semua anggota keluarganya. "Yang 25% dipunyai mertua wanita, 25% mertua laki-laki, 25% istrinya, dan 25% sahamnya," ungkapnya. Dengan demikian, tidak ada masalah dalam hal property right resep es telernya.

Dalam menggerakkan usahanya efisiensi juga menjadi perhatian. Dia sadar betul, biaya sewa ruangan di plaza tak semurah halaman pusat pertokoan atau ruko. Biaya ini pula yang jadi satu-satunya kendala yang dia hadapi karena perhitungan sewa ruangan di plaza umumnya berdasarkan mata uang dolar AS. Karenanya pengaturan ruangan yang luasnya 30 - 50 m2 dibuat efisien sehingga jarak antarmeja menjadi sempit. Memang kurang nyaman, tapi itulah ciri restoran Es Teler 77. "Kalau ada yang pacaran, untuk mengucapkan ‘aku cinta padamu’ saja tak mungkin karena pasti kedengaran. Suasananya saya buat terang. Dalam hati, saya berharap setiap tamu yang datang ke sini kalau bisa cepat pulang karena tempat ini mahal, ha-ha-ha."
Tenaga kerja pun efisien. Tiap cabang menyerap tenaga kerja 8 - 12. "Kita sangat efisien. Kasir juga bisa melayani. Semuanya all round. Jadi, siapa pun bisa melakukan tugas yang ada. Kalau di tempat lain kokinya kabur, usaha tak bisa berjalan. Di sini tidak," tegasnya.
Dengan begitu, apakah Sukyatno masih bisa digelari MBA, "Manusia Bisnis Asal-Asalan? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Tergantung dari mana melihatnya. Yang jelas, sebagai praktisi ia telah terbukti andal. (I Gede Agung Yudana)
http://ceds.ui.or.id/forums/archive/index.php?t-44.html

Indra Bigwanto

Nama Usaha        : Bandung FM
Mulai Usaha         : 1988
Usaha Lain           : Guard Indonesia, Editor Best 1 Djarum
                                : Sekolah Manajemen Radio
Lokasi Usaha       : Bandung
Organisasi             : PRSSNI (Ketua II Jawa Barat)
                                : PRSSNI (Kaetua I Pusat)
                                : Ketua Tim Task Force Suara Aceh (With UNESCO)
                                : Instruktur Unesco




Siapa yang pernah mendengar nama Bandung FM ? Bagi pendengar setia radio, nama stasiun yang satu ini masih cukup asing. Setidaknya dalam kurun waktu enam bulan ke belakang. Wajar saja, pendengarnya juga hanya diperkirakan 3.000 orang. Bahkan, peringkatnya juga hampir paling bontot, yaitu di posisi 46.

Namun, siapa sangka hanya dalam waktu enam bulan, Bandung FM langsung meroket. Memang masih belum setenar radio swasta yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi yang ajaib, justru beberapa radio berpamor tinggi peringkatnya sudah disalip radio yang bisa disebut masih “anak bawang”. Pendengarnya bertambah puluhan kali lipat menjadi sekitar 90 ribu. Sementara peringkatnya langsung menyodok ke posisi 11.

Jangan tanya soal modal atau promosi besar-besaran. Pasalnya sang pemikir satu ini tak mengandalkan jurus tersebut untuk memajukan radio yang baru satu semester digarapnya. Nah, kuncinya ternyata ada pada program yang dibuat untuk menarik jumlah pendengar yang banyak.

Sebelum melanjutkan ke cerita berikutnya, mari kita berkenalan dengan orang yang membuat Bandung FM cepat “berlari”. Ia adalah Indra Bigwanto. Lelaki kelahiran September 1962 inilah yang mampu menaikan pamor radio sepi pendengar jadi favorit.

“Banyak komunitas yang bisa digarap, kami merangkul ujung tombaknya dan itu terbukti berhasil,” ujar Indra.

Salahsatu komunitas yang dituju adalah kelompok pendukung Persib Bandung. Komunitas yang tergabung dalam Viking ini ia manfaatkan sebagai pasar. Dua “gegedug” Viking diajak kerjasama sebagai penyiar, Ayi Beutik dan Yana Bool. Dan program inilah yang jadi unggulan di Bandung FM.

“Program republik bobotoh (program siaran Ayi dan Yana) memang sengaja dibuat, selain komunitasnya banyak, ini juga merupakan perwujudan konsep di masa lalu saya yang sempat membuat tabloid Bobotoh,” jelas Indra.

Selain komunitas pecinta Persib, Indra dan timnya juga memanfaatkan komunitas lainnya seperti otomotif, blogger, ataupun film. Nah, program yang dibuatnya ini rupanya dapat merangkul banyak pendengar untuk beralih ke frekuensi 95.2 Bandung FM.

Urusan radio memang sudah menjadi santapan Indra sejak dulu. Pertama kali ia terjun ke dunia kerja, Indra langsung menggeluti dunia radio di Radio Famor di tahun 1988. Tak lama dari itu, ia beralih ke media cetak dan bergabung ke koran Pikiran Rakyat . Lalu PR membuat radio, dan Indra pun kembali dipercaya menggawangi radio PR sebagai Station Manager.

Tahun 1990, Indra kembali pindah. Kali ini radio OZ jadi pelabuhan berikutnya. Di radio ini Indra yang dipercaya sebagai Direktur selama 10 tahun membuat banyak perubahan. Banyak program yang dibuat bersama timnya seperti komputerisasi, pengadaan OB Van, serta mampu meningkatkan pendapatan karyawannya. Bahkan, Indra juga sempat satu era dengan P Poject serta Sogi Indraduadja yang keduanya kini punya nama  tenar.

Tahun 2000, Indra keluar dari OZ dan memutuskan membuat usaha sendiri. Ia berangkat ke Jakarta dan mendirikan perusahaan komunikasi bernama Metro Star hingga tahun 2004. Di tahun 2002, ia juga mendirikan perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang konsultan radio yaitu PT. Radio Inovator Indonesia (RI-1).

Selain itu, Indra juga sempat beberapakali membuat media cetak seperti Buah Batu Bisnis, Bandung Plus, Pasar Mobil Bandung, Metro Pos, serta Tabloid Bobotoh. Persaingan yang cukup ketat membuatnya harus mencoba untuk kembali menggeluti dunia radio.

“Nah di radio ini, sekarang saya juga akan kembali menerbitkan tabloid,” katanya.
Banyak tantangan yang sudah ia dapatkan saat menjalani usahanya, Namun ia tetap bertahan dan mampu kembali bangkit untuk terjun di usaha baru. Menurutnya, kunci suksesnya harus berada pada mental yang kuat. Persaingan yang semakin ketat membuat tentu membutuhkan daya tahan yang kuat untuk menghadapinya.

Selain itu, Indra juga menyarankan agar terus berfokus pada usaha yang sedang dijalankan. Differensiasi juga jadi faktor yang penting untuk berlomba dengan perusahaan lain. Ia mengatakan, dengan perbedaan akan dapat menciptakan pasar sendiri yang bisa digarap.

Dengan adanya teknologi yang lebih maju seperti sekarang, Indra juga menyarankan agar memanfaatkan jaringan sosial di internet dengan lebih intensif. Menurutnya, hal itu bisa dijadikan sebagai sarana promosi efektif dan murah biaya.

“Saat ini banyak yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan usaha, tinggal kitanya saja yang harus bisa mencari differensiasi, dan terus fokus pada usaha yang dikerjakan


http://pengusaha.co.id/cerita/indra_bigwanto_fokus_berbeda_manfaatkan_jaringan_sosial

Aburizal Bakrie



Aburizal Bakrie
Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.

Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).

Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).

Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.

selain itu organisasi yang pernah dijabatnya adalah

Organisasi
2000 – 2005 Anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)
1999 – 2004 Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II
1996 – 1998 Presiden, Asean Chamber of Commerce & Industry
1996 – 1997 International Councellor, Asia Society
1994 – 1999 Ketua Umum KADIN periode I
1993 – 1998 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode II
1993 – 1995 Anggota Dewan Penasehat, International Finance Corporation
1993 – 1995 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode II
1991 – 1993 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode I
1989 – 1994 Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia
1988 – 1993 Wakil Ketua Umum, KADIN Bidang Industri dan Industri Kecil
1988 – 1993 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode I
1985 – 1993 Ketua Bidang Dana PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia)
1984-sekarang Anggota, Partai Golongan Karya
1984 – 1988 Wakil Ketua, Asosiasi Kerjasama Bisnis Indonesia – Australia
1977 – 1979 Ketua Umum, HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia)
1976 – 1989 Ketua Umum, Gabungan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia
1975: Ketua Departemen Perdagangan HIPMI
1973 – 1975 Wakil Ketua Departemen Perdagangan, HIPMI

ad juga beberapa penghargaan yang didapat aburizal bakrie dalam berkarir

1997 Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN BusinessForum
1995 Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika
1986 Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce


Keluarga Aburizal mempunyai tiga adik yaitu sebagai berikut
Roosmania Odi Bakrie, menikah dengan Bangun Sarwito Kusmulyono
Indra Usmansyah Bakrie, menikah dengan Gaby Djorgie
Nirwan Dermawan Bakrie, menikah dengan Indira (Ike)
Aburizal menikah dengan Tatty Murnitriati dan dikaruniai tiga anak sebagai berikut:
Anindya Novyan Bakrie, menikah dengan Firdani Saugi
Anindhita Anestya Bakrie, menikah dengan Taufan Nugroho
Anindra Ardiansyah Bakrie

Pekerjaan
1992 – sekarang Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
1989 – 1992 Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation
1988 – 1992 Direktur Utama PT Bakrie & Brothers
1982 – 1988 Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers
1974 –1982 Direktur PT. Bakrie & Brothers
1972 – 1974 Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers


http://alabik.blogspot.com/2010/09/profil-aburizal-bakrie-biodata-aburizal.html

Putera Sampoerna

Putera Sampoerna (lahir di Schidam, Belanda pada 13 Oktober 1947) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.
Awal kehidupan
Putera memperoleh pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, dan kemudian di Carey Grammar High School, Melbourne. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di University of Houston, Texas, AS.
Lulus dari perguruan tinggi, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.
Pria yang menggemari angka sembilan itu mulai menjadi figur penting dalam perusahaan setelah menerima tampuk pimpinan tertinggi sebagai chief executive officer dari ayahnya, Aga Sampoerna, pada 1986. Setelah Aga meninggal pada 1994, Putera semakin aktif menggenjot kinerja perusahaan dengan merekrut profesional mancanegara untuk turut mengembangkan kerajaan bisnisnya.
Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi produk inti perusahaannya, yakni rokok, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air dengan produknya, A Mild.
Pada masa kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal.
Pada tahun 2000, Putera akhirnya mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.
Pada awal 2006, dikabarkan bahwa Putera, yang dikenal menggemari judi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion. Pada saat yang sama, Mansion dilaporkan akan menggantikan Vodafone sebagai sponsor klub sepak bola Manchester United selama empat tahun dalam kontrak senilai 60 juta poundsterling, namun kontrak tersebut kemudian dibatalkan. Kemudian beralih menjadi sponsor klub sepakbola Liga Inggris lainnya Totenham Hotspur sejak musim 2006-2007. Selain itu, Putera Sampoerna juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta poundsterling. Wow…..
http://elqorni.wordpress.com/2008/07/16/putera-sampoerna-pengusaha/

Bob Sadino

 
 






   
   
  Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
 
Pria berpakaian ''dinas'' celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.
Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ''Hati saya ikut hancur,'' kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ''Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.''

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ''warung'' shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ''Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,'' kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bob-sadino/index.shtml